Laman

Selasa, 06 Januari 2009

Maka Berpikirlah, Monyet ....



Oleh: Helmi Hidayat

(Tulisan ini pernah dimuat dalam rubrik Kolom Majalah PAKAR Vol. IV. No. 1 edisi Januari-Februari, halaman 50-51)

Manusia adalah makhluk yang menarik. Itu kata Plato.

Di satu sisi, filosof Yunani kuno itu melihat ada substansi dalam diri manusia yang selalu gandrung terhadap alam ide, alam ‘’atas’’, abadi dan terhormat. Manusia mengetahuinya secara tersamar. Ibarat orang bawa obor di dalam gua, dia melihat bayang-bayang di dinding gua itu sebagai samar dan semu, meski dia tahu persis bahwa itu adalah bayang-bayang dirinya sendiri. Di sisi lain, Plato juga melihat ada substansi lain dalam diri manusia yang selalu cenderung menggeluti alam ‘’bawah’’, sifatnya dayus, gelap, tidak kekal, kurang terhormat.

Kedua substansi ini saling tarik-menarik. Kata Plato, itu ibarat dua ekor kuda menarik satu pedati: kuda yang satu selalu ingin terbang dan menarik pedati ke atas, semantara kuda lainnya senantiasa menarik pedati ke bawah. Siapa sais pedati? Akal pikiran, kata Plato. Jika si sais cerdas dan cermat, kedua ekor kuda itu bakal bisa dikendalikan dan pedati akan berjalan seimbang.

Orang dengan mudah menemukan kesamaan antara filsafat Plato ini dengan ajaran Islam. Banyak ustadz dan guru ngaji di surau, misalnya, mengingatkan kita tentang adanya hawa nafsu yang inheren dalam diri manusia. Hawa nafsu ini –substansi di mata Plato -- selalu mengajak pada kejahatan, kerendahan budi pekerti, dengan kenikmatan sesaat sebagai iming-imingnya. Setelah itu bisa ditebak. Si ustadz biasanya segera mengingatkan jamaahnya tentang peran nurani yang juga inheren dalam diri manusia, yang selalu mengajak manusia melakukan kebaikan. Akal pikiran biasanya selalu cocok dengan bisikan nurani ini – meski kebanyakan orang pura-pura tuli dan cenderung menuruti kata hawa nafsu.

Konsep inilah yang membuat manusia, dalam Islam, jadi punya tanggung jawab penuh atas apa saja yang mereka putuskan. Mereka bebas menurunkan jiwa yang terjebak dalam jasad kasar mereka ke derajat apa saja, entah setaraf dengan tumbuh-tumbuhan, setingkat binatang, atau semulia martabat malaikat. Tentu itu dengan konsekuensinya sendiri-sendiri. Pendek kata, eksistensi manusia diukur dari penuhnya kebebasan yang mereka peroleh dan penuhnya tanggung jawab yang harus mereka pikul. Dalam kalimat Tuhan, ‘’Beruntunglah orang yang menyucikan jiwa. Dan merugilah orang yang menistakannya.’’

Jika Plato hanya membuat dikotomi adanya jiwa rendah dan jiwa tinggi yang tarik-menarik dalam diri manusia, beberapa filosof Muslim, misalnya Ibnu Sina, mengembangkan pemikiran itu lebih detil dan menarik. Kata mereka, dalam diri manusia terdapat tiga jiwa – tumbuh-tumbuhan, binatang, dan malaikat. Manusia bebas memilih jiwa mana yang mau dia kembangkan. Karena itu, lagi-lagi mereka harus bertanggungjawab atas pilihan eksistensial mereka.

Pikiran ini bukan cuma menarik, tapi juga bisa terkesan main-main kalau orang tak serius merenungkannnya. Buat sebagian ini malah sulit dimengerti. Bagaimana mungkin manusia bisa sederajat tumbuhan-tumbuhan? Tapi begitulah faktanya. Seperti manusia, tumbuh-tumbuhan juga makhluk hidup. Ia punya hasrat untuk makan, minum, tumbuh berkembang mempertahankan keturunannya – sebagian malah lewat aktivitas seks dalam cara yang berbeda.

Sampai di sini, bukankah tak ada beda antara manusia dan tumbuh-tumbuhan? Kalau pun ada, itu karena manusia memiliki dan menggunakan kelima alat inderawinya, mencabut kakinya dari tanah, lalu bergerak dan berlari. Tapi, bukankah monyet juga bisa? Ya, monyet juga bisa bergerak dan berlari, makan dan minum, melihat, mendengar, meraba dan merasa seperti manusia. Cara monyet beraktivitas seksual malah sama dengan manusia. Bahkan, dengan tempurung otak yang tak terlalu besar, monyet mampu mengembangkan daya khayalinya: ia gesit menyerang, mempertahankan diri, juga membangun piramida sosial lengkap dengan struktur pemimpin dan yang dipimpin.

Nah, kalau begitu, apa beda antara manusia dan monyet?

Kalau obrolan ini kita hentikan sampai di sini, jawabnya tentu tak ada beda. Apalagi anatomi monyet – lebih-lebih anggota serumpunnya yang lain semisal Gorila, Simpanse, Gibon atau Orangutan – tak jauh berbeda dengan manusia.

Tapi, seperti kata seorang kawan mengutip Aristoteles, manusia bisa berpikir; bahkan berpikir tentang apa saja -- tentang masa lalunya, masa sekarang, juga masa depannya. Pengertian berpikir di sini luas, tidak melulu berarti memikirkan jawaban soal-soal ujian. Ada keajaiban ketika seseorang berpikir, terutama ketika dia berpikir tentang masa lalu, masa depan, dan masa sekarangnya. Karl Jaspers (1910-1969) malah mewanti-wanti agar manusia selalu merenungkan masa lalunya sebagai landasan dalam menentukan masa depannya. ‘’Man must know what he was, to realize what he can be,’’ kata Jaspers. ‘’His historic past is inevitable basic factor of his future.’’

Berpikir tentang masa lalu dan masa depan berarti berpikir tentang yang tak tampak, yang gaib. Memikirkan besok makan apa buat mereka yang tak punya duit termasuk berpikir tentang yang gaib, sama ketika orang berpikir bagaimana jiwa mereka yang bakal tidur panjang di alam kubur nanti bakal dibangkitkan kembali, lalu berjalan, lalu entah tertunduk lesu atau mendongak girang ketika kemilau cahaya Tuhan menerangi Gurun Mahsyar tempat mereka dikumpulkan. Ada keasyikan tersendiri – sampai mabuk dalam ekstase kata Al-Hallaj -- ketika kita berpikir tentang masa depan – suatu ‘masa’ yang benar-benar jauh di depan.

Berpikir tentang masa sekarang tak kalah asyik. Kita malah lebih sering terjebak di dalamnya: berpikir tentang yang nyata, yang mewaktu dan meruang, terpenjara oleh kesadaran detik dan menit, terjebak dalam kesadaran terbit dan tenggelamnya Matahari; pokoknya pikiran sehari-hari -- mulai dari memilih merek sabun mandi sampai gemar duduk berjam-jam di bangku diskotek menikmati goyang penyanyi dangdut.

Singkat kata, Aristoteles benar bahwa berpikir adalah segala-galanya buat manusia. Ia menyebut manusia sebagai hayawaan naatiq alias binatang berpikir. Rene Descartes malah punya jargon yang lebih ekstrem dan populer, cogito ergo sum – aku berpikir maka aku ada. Demikian besarnya peran berpikir buat makhluk manusia, sampai-sampai Allah menganggap manusia yang mengabaikan potensi berpikirnya lebih hina dari binatang di dunia ini seraya menjebloskan mereka ke neraka Jahanam di akhirat nanti. ‘’Sesungguhnya Kami jadikan isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka punya akal tapi tidak digunakan untuk berpikir, punya mata tapi tak digunakan untuk melihat, dan punya telinga tapi tak digunakan untuk mendengar. Mereka seperti binatang, bahkan lebih sesat lagi. Mereka adalah orang-orang yang lalai.’’ (QS 7:179)

Pendek kata, kata kawan tadi, kekuatan berpikir inilah yang membuat manusia luar biasa sekaligus membedakannya dengan monyet. Potensi berpikir inilah yang membuat manusia – bukan monyet – mampu meraba dasar laut dan menari di atas bulan, melubangi kawah gunung dan menguruk danau, atau merancang masa depannya menjadi apa saja. Tuhan tidak sedang tidur ketika Ia berkata: ‘’Telah Kami ciptakan manusia dalam sebaik-baiknya bentuk.’’ (QS 95: 4)

Ukuran ‘’terbaik’’ di sini tentu bukanlah semata fisik, tapi juga terutama nonfisik. Toh, banyak juga orang tergila-gila dengan fisik anjing sampai membuat fesitival anjing segala, atau begitu marah ketika anjing disia-siakan – meski mereka diam saja ketika ratusan ribu manusia tak berdosa di Bosnia, Irak, Afghanistan dan banyak tempat lainnya dibantai secara lebih terhina ketimbang anjing.

Jika pendapat kawan tadi benar, berarti cuma berpikirlah satu-satunya faktor yang membedakan manusia dengan monyet!

Maka, berpikirlah, monyet! Engkau akan diterima dalam komunitas manusia.

Berpikirlah, monyet! Manusia tak akan lagi sesumbar bahwa merekalah makhluk terbaik di jagad raya ini.

Berpikirlah, monyet! Engkau tak akan lagi cuma berkelahi dengan taring dan cakar, tapi dengan panah, tombak, pedang dan senjata nuklir.

Berpikirlah, monyet! Engkau akan mampu bermain golf di bulan.

Berpikirlah, monyet! Engkau bisa menikah di dasar lautan, atau bertukar cincin kawin sambil bergelantungan di payung terjun.

Berpikirlah, monyet! Engkau akan ngobrol lewat satelit dari hutan tropis Borneo dengan saudara iparmu di gunung-gunung Skandinavia atau hutan-hutan Afrika.

Berpikirlah, monyet! Engkau akan terkesima melihat indahnya kehidupan di perut ibu, terkesiap ketika alat kelaminmu disunat, menjadi pengantin dalam akad nikah berdasar cinta, lalu berharap bisa segera tidur panjang di dasar kubur yang dingin sambil tersenyum ingin segera melihat wajah Allah di Gurun Mahsyar ….

Tapi, monyet tetaplah monyet. Anda tak bisa berharap banyak dari monyet. Amanah untuk menerima kemampuan berpikir begitu berat buat monyet. Tapi tidak untuk manusia. Mereka justeru makhluk berpikir.

Karena itu jangan pernah berhenti berpikir. Anda pasti tak mau disebut .....monyet!

Jakarta, 4 Januari 2007

Tidak ada komentar: